Digitalisasi Pengelolaan Industri Sawit

“Metodologi baru yang terintegrasi dan totalitas kesisteman yang dihadirkan oleh digitalisasi per – tanian dan digitalisasi supply chain, sedang ber – kembang dan mulai memasuki industri sawit. Meto – do logi produksi baru tersebut menjanjikan ter – capainya manfaat ekonomi yang maksimal sekaligus meminimumkan biaya sosial pada industri sawit,” Apa tujuan menerapkan metodologi baru di industri sawit? Untuk membawa industri sawit yang ada saat ini ke level Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu platform baru pembangunan global yang ditetap – kan PBB memerlukan metodologi baru, baik pada le vel perusahaan, industri (supply chain) maupun pa – da level tatakelola. Pendekatan parsial yang kita la – ku kan dalam pengelolaan, baik pada level per ke – bun an sawit (on-farm) maupun pada level rantai pa – sok, menyebabkan tidak tercapainya produktivitas yang optimal, inefisiensi, boros sumberdaya, dan menghasilkan polutan pada lingkungan, instabilitas pasokan dan volatilitas harga. Metodologi baru yang dimaksud, yaitu terintegrasi dan totalitas kesisteman yang dihadirkan oleh digi – talisasi farming (precision farming, smart farming) dan digitalisasi supply chain, sedang berkembang dan mulai memasuki industri sawit.

Metodologi produksi baru tersebut menjanjikan tercapainya manfaat ekonomi yang maksimal sekaligus meminimumkan biaya sosial pada industri sawit. Menuju 2030, kita akan menyaksikan digitalisasi tersebut menjadi me – tode yang efektif dalam membawa industri sawit mencapai SDGs. Pada level tatakelola industri sawit, metodologi atau pendekatan parsial yang dilakukan selama ini juga tidak lagi memadai dengan kompleksitas yang berkembang. Perkembangan perkebunan sawit yang cepat bahkan dikategorikan sebagai suatu re – volusioner, terlambat diimbangi oleh penyesuaian tata kelola pembangunan perkebunan yang menjadi otoritas pemerintah. SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih Selain soal kecepatan, pada level tatakelola pem ba – ngunan saat ini kita menghadapi kompleksitas seba – gai konsekuensi logis dari pelaksanaan otonomi dae – rah dan perubahan-perubahan kebijakan sektoral. Izin lokasi perkebunan yang telah menjadi kewenangan pemerintah daerah, bersinggungan dengan perizinan sektoral seperti tataruang, izin kawasan, izin perta – nahan dan puluhan izin-izin pemerintah daerah yang harus dimiliki untuk dapat melakukan pembukaan maupun pengoperasian usaha perkebunan. Belum lagi kompleksitas yang diakibatkan dinamika baru dalam birokrasi pemerintah setiap level yang tidak lagi sistematis bahkan susah dipediksi.

Dalam hal apa digitalisasi dapat diterapkan di industri sawit? Berbagai masalah yang terjadi pada industri sawit saat ini seperti tumpang tindih perizinan, tumpang tindih kawasan, inkonsistensi perizinan antarsektor, dan belum adanya perizinan perkebunan yang leng – kap dimiliki perkebunan sawit saat ini adalah akibat pendekatan parsial atau egosektoral serta keter lam – bat an penyesuaian tatakelola dengan dinamika ma – sya rakat yang terjadi. Untuk menghadapi kompleksitas baru tersebut, perlu metode tatakelola baru, yakni digitalisasi tatakelola. Suatu metode tatakelola yang terintegrasi secara ver – tikal dan horizontal, cepat, mudah, transparan, murah, akuntabel dan toleran pada perubahan dinamika birokrasi. Sistem perizinan tersebut sebagai bagian dari tata kelola pembangunan merupakan salah satu pilar penting dalam SDGs dan bagian penting dari aspek keberterimaan industri sawit pada pasar global. Aplikasi Sistem Informasi Perijinan Perkebunan (SIPERIBUN) yang baru saja diluncurkan Direktorat Jenderal Perkebunan merupakan langkah maju yang penting untuk membenahi Tatakelola Pembangunan Perkebunan termasuk pada industri sawit. Siperibun yang ada, berikutnya perlu dikembangkan dan diin – tegrasikan secara sektoral (horizontal) dan pemerintah daerah (vertikal) sebagai bagian tak terpisahkan dengan sistem perizinan usaha nasional.