Saat Mama Merasa Begitu Lelah

Beberapa orangtua, khususnya para mama, sering merasa dirinyalah yang harus melakukan semua tugas mengurus bayi. Gara-gara perasaan inilah kondisi fisik dan mental Mama sering drop tiba-tiba. Akibatnya, keberadaan dan peran serta (keterlibatan) Papa menjadi sesuatu yang sensitif. Sebenarnya, di manakah dan seberapa besarkah peran serta suami dalam menangani bayi baru lahir pada hari pertama ia berada di rumah? Menurut Viera Adella, Psi., MPsi., beberapa faktor bisa menjadi penyebab istri merasa “terjebak” dalam rutinitas mengurusi bayi.

Di antaranya elekatan fisik (physical attachment), kedekatan psikologis, dan peran sosio-moral. Kelekatan fisik merupakan kondisi yang dirasakan ibu-anak selama 9 bulan saat bayi dalam kandungan, dimana tali plasenta dan rahim menjadi bukti bahwa kedua nya memang saling terhubung dan bergantung. Secara psikologis, terbangun kesadaran “rasa memiliki” yang kuat dari ibu mulai menjaga kehamilan hingga dari rahimnya terlahir bayi dengan kondisi selamat.

Dengan kata lain, bayi seperti anugerah terindah atas keberhasilan ibu menjaga, memelihara, dan mengembangkan janin yang ada di rahimnya. Secara sosio-moral, tuntutan nilai-nilai dan keyakinan dari lingkungan sosial (khususnya budaya timur) yang cenderung menempatkan ibu di posisi utama dalam mengasuh anak.

Jadi, ibu akan merasa sangat bertanggung jawab untuk menjadi orang pertama yang mengantarkan bayi pada dunia barunya, hingga suatu saat ia siap “menyerahterimakan” atau merelakan orang lain turut terlibat dalam peran mengasuh dan memelihara bayi.

Bala Bantuan Datang

Perasaan “sendiri” tentunya tak akan muncul jika Mama dan Papa masih tinggal serumah dengan orangtua. Biasanya, tanpa diminta pun, orangtua, adik, kakak, atau para asisten rumah tangga yang ada di rumah itu akan dengan sigap dan senang hati membantu mama menjalankan rutinitas baru. Menurut Della, peran extended Family di budaya timur secara filosofis dan historis sering dimaknai sebagai lebih lengkapnya “bala bantuan” bagi istri. Hal ini yang membuat istri tak merasa “sendiri” dalam kecemasan dan kebingungannya di hari-hari pertama merawat bayi.

Namun demikian ada baiknya Mama dapat menilai kesiapan dan kemampuan mereka untuk terlibat. Caranya dengan mengidentifikasi: (1) kesediaan waktu, (2) tenaga yang fit, (3) inisiatif dan ke tanggapan untuk mengambil peran, serta (4) kemampuan dan keterampilan mereka. “Terkadang anggota keluarga lain berminat untuk terlibat, memiliki waktu, tapi belum berinisiatif mengambil peran itu karena belum diberi izin atau ditugaskan.

Di situasi yang lain, bisa jadi ada anggota keluarga yang sudah diberi izin tapi sudah tak energik untuk melakukan aktivitas merawat bayi.” Agak dilematis memang. Namun, dengan hadirnya bala bantuan ini para istri memang sangat terbantu. Kesempatan ini umumnya digunakan oleh para istri untuk sedikit melepas lelah dan bisa memerhatikan kondisi fisiknya pada hari pertama bayi baru lahir berada di rumah.

Untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing berikan ia les tambahan di tempat les terbaik bahasa Perancis di Jakarta. sehingga ia akan memiliki keterampilan bahasa lain untuk masa depannya kelak.